Business
Beranda » Berita » Harga Kakao Tahun 2026 Menurun

Harga Kakao Tahun 2026 Menurun

Direktur Utama PT Timor Mitra Niaga Kupang, Hengky Lianto. (Foto Kanis Jehola)

WKN.COM, KUPANG – Produksi kakao yang dikembangkan di Desa Wetana, Kecamatan Laboya Barat (Gaura), Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.

Namun, di tengah keberhasilan menembus pasar ekspor, harga kakao pada tahun 2026 justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Direktur Utama PT Timor Mitra Niaga Kupang, Hengky Lianto, mengungkapkan, harga kakao yang sebelumnya sempat mencapai lebih dari Rp 100.000 per kilogram pada tahun 2025, kini turun menjadi sekitar Rp 55.000 hingga Rp 60.000 per kilogram.

“Penurunan harga ini memang cukup terasa, tetapi kami tetap optimistis terhadap prospek kakao ke depan,” ujarnya ketika ditemui wartakonstruksintt.com di Kupang, Selasa (21/4/2026).

Perkebunan kakao yang dikelola perusahaan tersebut memiliki luas sekitar 815 hektar, dengan sekitar 500 hektar ditanami kakao. Produksi kakao di wilayah ini sangat bergantung pada kondisi iklim. Dalam kondisi normal, hasil produksi dapat mencapai 300 ton per tahun, namun saat cuaca buruk, produksi bisa turun hingga 100 ton.

130 Peserta Ikut Uji Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di ATK

Selain faktor harga, tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan kakao meliputi kondisi infrastruktur yang terbatas, perubahan iklim, serta kebutuhan tenaga kerja terampil. Meski demikian, kakao dari Sumba Barat memiliki keunggulan dari segi kualitas, terutama ukuran biji yang lebih besar dibandingkan daerah lain.

Pada tahun 2025, sebagian produksi kakao dari wilayah ini bahkan berhasil menembus pasar Eropa, meskipun dalam jumlah terbatas, yakni sekitar 20 hingga 30 ton dari total produksi lebih dari 160 ton.

Hengky menegaskan bahwa kakao tetap menjadi komoditas yang menjanjikan karena memiliki masa panen yang panjang, yaitu dari April hingga Desember. Hal ini berbeda dengan komoditas lain yang hanya panen satu kali dalam setahun.

“Dengan pengelolaan yang baik serta dukungan tenaga kerja yang terampil, kami yakin kakao dari Sumba Barat akan terus berkembang dan mampu bersaing di pasar internasional,” tutupnya. (kas)

Mendorong Peran Perguruan Tinggi: Melahirkan Nelayan Profesional

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement