WKN.COM, KUPANG — Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan pembelian beras dan gabah produksi lokal mencapai sekitar 7.300 ton setara beras hingga akhir tahun 2026.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil NTT, Arrahim K. Kanam, mengatakan hingga pertengahan Mei 2026 pihaknya telah menyerap hampir 2.300 ton setara beras dari hasil produksi petani lokal.
“Dalam waktu satu setengah bulan di April-Mei 2026, Bulog NTT telah merealisasikan pembelian beras dan gabah produksi lokal hampir mencapai 2.300 ton. Dan ini akan kita gas terus sampai akhir tahun. Mudah-mudahan bisa tercapai,” kata Arrahim kepada wartakonstruksintt di Kupang, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, penyerapan tersebut merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Bulog dalam mendukung program swasembada beras nasional sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026.
Secara nasional, target pengadaan tahun 2026 ditetapkan sebesar 4 juta ton setara beras, meningkat dibandingkan target tahun 2025 yang mencapai 3 juta ton.
“Pengadaan 4 juta ton secara nasional itu bukan hanya beras tetapi juga gabah setara beras. Jadi sesuai penugasan pemerintah, kami menyerap beras dan gabah produksi lokal,” ujarnya.
Arrahim menjelaskan, pembelian gabah dan beras produksi lokal dilakukan berdasarkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp 6.500 per kilogram untuk gabah dan Rp 12.000 per kilogram untuk beras.
Ia menegaskan, Bulog hanya membeli kelebihan hasil produksi petani atau marketable surplus setelah kebutuhan petani terpenuhi.
“Jadi setelah petani terpenuhi kebutuhannya, setelah dia menghitung semua ada kelebihan produksi, itulah yang dibeli Bulog. Prinsipnya seperti itu,” katanya.

Selain menyerap hasil panen petani, Bulog juga berupaya menjaga agar harga gabah dan beras di tingkat petani tidak jatuh di bawah HPP.
Dalam pelaksanaannya, Bulog NTT bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT serta TNI untuk pendampingan di lapangan.
Penyerapan dilakukan di seluruh wilayah potensial penghasil gabah dan beras di NTT.
Di wilayah kerja Bulog Kanwil NTT terdapat 11 entitas, termasuk 10 cabang yang menjalankan penyerapan mulai dari Atambua hingga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Arrahim mengatakan, berdasarkan data Dinas Pertanian NTT, potensi produksi padi di daerah tersebut terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga Bulog optimistis target pengadaan dapat tercapai hingga akhir tahun 2026.
“Kami sangat berharap produksi terus meningkat dan hasilnya bisa diserap Bulog karena itu merupakan salah satu indikator keberhasilan swasembada beras,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui target pengadaan beras lokal di NTT masih jauh dari total kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data penyaluran Bulog NTT untuk berbagai program pemerintah, kebutuhan beras di NTT mencapai sekitar 5.000 ton per bulan.
“Kalau dibandingkan dengan target pengadaan, maka jumlahnya masih sangat kurang,” katanya. (kas)

Komentar