WKN.COM, KUPANG – Dalam upaya mengantisipasi dampak kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Nino, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Air Tanah dan Air Baku (ATAB) 1 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (NVT) Air Tanah dan Air Baku Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II akan membangun empat titik sumur bor Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun 2026.
PPK ATAB 1 BBWS Nusa Tenggara II, Daud Wadu Djami, ditemui wartakonstruksintt.com di Kupang, Senin (27/7/2026), menjelaskan, pembangunan empat sumur bor tersebut dibagi dalam dua paket pekerjaan. Paket I mencakup dua titik di Kota Kupang, yakni di Kelurahan Bakunase dan Kelurahan Naioni.
Sementara Paket II akan dibangun di Kabupaten Malaka, masing-masing di Desa Weoe dan Desa Umanen Lawalu.
Menurut Daud, wilayah kerja PPK ATAB 1 meliputi Pulau Timor, mulai dari Kota Kupang hingga Kabupaten Belu dan Malaka, serta Pulau Alor, Rote, dan Sabu.
“Saat ini kami baru menyelesaikan pengambilan data geolistrik di lapangan. Khusus untuk lokasi di Kota Kupang, tim juga kembali melakukan identifikasi ulang untuk memastikan titik pembangunan sumur bor,” ujar Daud.
Ia menjelaskan, hingga kini pihaknya masih menunggu Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari Kementerian PU sebagai dasar pelaksanaan pekerjaan fisik.
“Kami mendapat informasi dari kementerian, kemudian berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Ada juga usulan lokasi dari pemerintah daerah. Setelah dilakukan identifikasi bersama Dinas PUPR Kota Kupang dan Dinas PU Kabupaten Malaka, kami menetapkan lokasi dan melakukan survei lapangan. Mudah-mudahan DIPA segera turun sehingga pekerjaan fisik bisa dimulai pada awal Agustus 2026,” katanya.
Daud menegaskan, pembangunan empat sumur bor JIAT tersebut merupakan program khusus untuk mengantisipasi kekeringan dan berada di luar paket pekerjaan reguler tahun 2026.
Anggaran yang diusulkan untuk setiap titik sumur bor sebesar Rp 1,6 miliar. Nilai tersebut tidak hanya mencakup pembangunan fisik sumur, tetapi juga berbagai komponen pendukung seperti belanja sewa, perjalanan dinas, alat tulis kantor (ATK), dan kebutuhan operasional lainnya. Seluruh pekerjaan akan dilaksanakan secara swakelola.
Selain program antisipasi kekeringan, PPK ATAB 1 juga tengah menjalankan sejumlah paket pekerjaan reguler pada tahun 2026.
Untuk program JIAT, terdapat dua titik pembangunan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yakni di Desa Tensala dan Desa Tualene. Kedua proyek tersebut juga dikerjakan secara swakelola dan hingga Juli 2026 telah mencapai progres sekitar 70 persen.
“Kami optimistis pekerjaan di TTU bisa selesai pada akhir Agustus 2026,” ujar Daud.
Sementara untuk program penyediaan air baku juga dilaksanakan di Kabupaten TTU melalui pembangunan dua titik sumur, masing-masing di Desa Fatumuti, Kecamatan Noemuti, dan Desa Sekon.
Selain pembangunan baru, BBWS Nusa Tenggara II juga melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan sarana air baku di beberapa daerah, antara lain satu titik di Kabupaten Kupang, satu titik di Kabupaten Alor, serta dua titik di Kabupaten Belu.
Di Kabupaten Kupang, salah satu pekerjaan telah selesai dilaksanakan di kawasan Taman Ziarah Oebelo. Selain itu, dilakukan pula pekerjaan di Retraen Amarasi.
Sementara di Kabupaten Belu, dilakukan penggantian pompa dan perbaikan jaringan air pada salah satu sekolah, serta pembangunan bak penampung air di Universitas Pertahanan (Unhan) Belu untuk menampung suplai air dari Bendungan Rotiklot.
Melalui berbagai program tersebut, BBWS Nusa Tenggara II terus memperkuat layanan air tanah dan air baku guna mendukung ketahanan air bagi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang rentan mengalami kekeringan. (kas)

Komentar