Oleh: Ir. Piter Djami Rebo, M.Si
Dosen Akademi Teknik Kupang & Mantan Birokrat PU
WKN.COM – SEBUAH ungkapan mendalam dari Gubernur Maluku Utara yang ramai beredar di media sosial saat peringatan HUT RI lalu meninggalkan pesan kunci yang sangat relevan. Beliau menegaskan: “Merdeka bukan hanya kata yang kita teriakkan, merdeka adalah kata kerja. Merdeka diwariskan, kemajuan diperjuangkan.”
Pesan ini membawa refleksi mendasar bagi dunia pendidikan tinggi dan tata kelola pemerintahan di daerah. Kampus tidak boleh lagi berpuas diri hanya menjadi pencetak lulusan pencari kerja. Perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan anak-anak muda yang berani bermimpi, berani bertanya “Apa yang bisa saya buat?”, serta hadir sebagai pencipta lapangan kerja. Sementara itu, birokrasi di semua tingkatan harus memegang teguh prinsip melayani: mempermudah, bukan mempersulit.
Gempa Flores 2026: Menguji Kesadaran dan Aksi Nyata
Refleksi tentang “merdeka sebagai kata kerja” ini menjadi kian mendesak ketika daerah kita, Nusa Tenggara Timur (NTT), baru saja kembali diuji oleh bencana gempa bumi di Flores pada 15 Agustus 2026.
Musibah yang terjadi di tengah nuansa kemerdekaan ini membawa duka mendalam dan keprihatinan kita bersama bagi saudara-saudara kita yang terdampak.
Namun di balik keprihatinan tersebut, gempa 15 Agustus 2026 ini membawa kita pada memori kolektif bencana kelam gempa dan tsunami Flores pada 12 Desember 1992 silam. Sejarah mencatat betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan saat itu.
Pengalaman pahit 34 tahun lalu ditambah ujian terbaru hari ini menegaskan satu hal penting: NTT adalah daerah yang hidup di atas zona rawan gempa dan bencana alam.
Bencana tidak bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi jika kita belajar dari sejarah dan bertindak dengan ilmu pengetahuan.
Membangun Budaya Mitigasi dan Harapan Baru Masyarakat
Cinta tanah air hari ini diukur dari sejauh mana kita menyiapkan daerah ini agar tangguh menghadapi kerentanan alam. Di tengah ujian bencana yang melanda, masyarakat tidak boleh kehilangan harapan. Harapan itu kita wujudkan melalui tiga langkah nyata yang harus kita kerjakan bersama:
Inovasi Konstruksi Tahan Gempa & Ketenangan Masyarakat: Dunia akademis tidak boleh berjarak dengan realitas alam daerahnya. Riset-riset kampus, khususnya di bidang teknik dan infrastruktur, harus difokuskan pada pengembangan rumah tahan gempa yang ramah kantong, aman, dan memanfaatkan material lokal NTT.
Kehadiran teknologi tepat guna ini memberi harapan dan kepastian bagi masyarakat bahwa mereka dapat hidup lebih aman di atas tanah kelahirannya.
Birokrasi yang Tanggap dan Mempermudah: Pemerintah daerah dan birokrasi harus mempermudah tata ruang berbasis mitigasi bencana, mempercepat perizinan infrastruktur publik yang aman, serta memastikan standar bangunan (building code) diterapkan dengan ketat tanpa belitan administrasi yang menyulitkan. Layanan yang cepat dan ramah adalah wujud nyata pemerintah hadir menenteramkan rakyatnya.
Ketangguhan Komunitas & Kebangkitan Ekonomi: Masyarakat NTT memiliki daya tahan (resilience) dan semangat gotong royong yang luar biasa. Dengan pembekalan literasi bencana dari anak-anak muda dan mahasiswa, masyarakat tidak hanya menjadi tangguh menghadapi bencana, tetapi juga terdorong untuk kembali bangkit menata kehidupan dan ekonomi keluarga pascabencana.
Berkontribusi Bersama untuk Masa Depan NTT
Kita boleh berbeda pandangan, pilihan, atau latar belakang, namun kita diikat oleh rumah dan masa depan yang sama: Indonesia dan bumi Flobamora yang kita cintai.
Saatnya kita bergeser dari sekadar bertanya “Apa yang telah diberikan negara untuk saya?” menjadi “Apa bagian saya untuk membuat Indonesia dan NTT lebih baik serta lebih aman dari bencana?”
Merdeka telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Kini, tugas kita di dunia pendidikan, birokrasi, dan seluruh lapisan masyarakat adalah memperjuangkan kemajuannya dan menjaga keselamatan rakyat secara bersama-sama.
NKRI kita jaga, Nusa Tenggara Timur kita bangun bersama. (*)

Komentar