“Bencana tidak dapat kita cegah, tetapi kerentanan bangunan dapat kita kurangi”
Oleh: Piter Djami Rebo
Dosen Akademi Teknik Kupang.
WKN.COM – GEMPA BUMI adalah peristiwa alam yang tidak dapat kita hentikan. Kapan gempa terjadi, berapa besar kekuatannya, dan di mana pusat gempanya berada, tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.
Tetapi ada sesuatu yang sebenarnya berada dalam kendali manusia: bagaimana kita membangun.
Inilah pelajaran penting yang perlu kita renungkan kembali ketika Flores menghadapi gempa dan pemerintah melaksanakan program pembangunan kembali rumah masyarakat yang terdampak.
Lebih dari tiga dekade lalu, Flores mengalami gempa besar pada 12 Desember 1992. Peristiwa tersebut meninggalkan luka yang sangat dalam bagi masyarakat Flores. Rumah dan bangunan rusak, kehidupan masyarakat terganggu, dan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.
Kini, setelah pengalaman panjang tersebut, kita kembali berhadapan dengan persoalan yang sama: Bagaimana membangun rumah yang lebih aman agar kesalahan masa lalu tidak terulang?
Pertanyaan ini membawa kita kepada satu instrumen penting dalam penyelenggaraan bangunan gedung, yaitu Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG.
PBG Bukan Sekadar Pergantian Nama
Masyarakat mungkin bertanya: Mengapa dulu disebut IMB, sekarang menjadi PBG?
Perubahan dari Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) jangan dipahami hanya sebagai perubahan istilah.
Di balik perubahan nomenklatur tersebut terdapat perubahan cara pandang dalam penyelenggaraan bangunan.
Secara sederhana, IMB lebih mudah dipahami masyarakat sebagai izin untuk mendirikan bangunan.
Sementara PBG ditempatkan dalam kerangka penyelenggaraan bangunan gedung yang lebih luas, dengan penekanan pada pemenuhan standar teknis bangunan gedung.
Artinya, perhatian tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan: “Apakah saya sudah memiliki izin membangun?”
Tetapi harus berkembang menjadi: “Apakah bangunan yang saya bangun telah direncanakan dan akan dilaksanakan sesuai persyaratan teknis sehingga aman bagi penghuninya?”
Inilah perubahan paradigma yang penting.
Harus Berujung pada Keselamatan
Kita harus memahami bahwa PBG bukanlah jaminan bahwa sebuah bangunan pasti tidak akan rusak ketika gempa terjadi. Gempa yang sangat kuat tetap dapat merusak bangunan.
Namun PBG merupakan salah satu instrumen pemerintah untuk memastikan bahwa pembangunan bangunan gedung mengikuti persyaratan yang ditetapkan.
Karena itu, PBG harus dipahami sebagai bagian dari rantai keselamatan bangunan.
Rantai tersebut dapat digambarkan sederhana: Tata Ruang → Perencanaan → PBG → Pelaksanaan → Pengawasan → Pemeliharaan → Kelaikan Bangunan.
Setiap mata rantai mempunyai peran. Apabila perencanaan benar tetapi pelaksanaan tidak sesuai desain, bangunan dapat bermasalah.
Apabila desain dan pelaksanaan benar tetapi pengawasan lemah, penyimpangan dapat terjadi.
Apabila bangunan dibangun dengan baik tetapi kemudian diubah tanpa memperhatikan struktur, risiko juga dapat meningkat.
Karena itu, PBG bukan akhir dari pengendalian. PBG adalah bagian dari awal perjalanan menuju bangunan yang aman.
Mengapa Ada Bangunan Rusak dan Ada yang Tetap Berdiri?
Pertanyaan ini sangat penting setelah gempa. Ketika dua rumah berada dalam wilayah yang relatif sama dan mengalami guncangan yang sama, mengapa tingkat kerusakannya bisa berbeda?
Ada rumah yang roboh. Ada yang rusak berat. Ada yang hanya mengalami kerusakan ringan. Tetapi ada pula rumah yang tetap berdiri dan masih dapat digunakan.
Fenomena tersebut harus menjadi bahan pembelajaran. Sebab kerusakan bangunan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa.
Kerusakan juga dipengaruhi oleh kondisi tanah; lokasi bangunan; sistem struktur; kualitas fondasi; mutu material; detail tulangan;
kualitas sambungan; keteraturan bangunan; kualitas pekerjaan; kompetensi tukang dan tenaga teknis; pengawasan; serta pemeliharaan dan perubahan bangunan.
Dengan demikian, gempa yang sama tidak selalu menghasilkan kerusakan yang sama. Di sinilah ilmu konstruksi mempunyai peran penting.
Jangan Hanya Belajar dari Bangunan Roboh
Setiap kali terjadi bencana, perhatian kita biasanya tertuju kepada bangunan yang roboh.
Itu memang penting. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: Mengapa bangunan yang berada di wilayah yang sama ada yang tetap berdiri?
Bangunan yang tetap berdiri sesungguhnya adalah guru yang sangat berharga. Kita perlu mempelajarinya. Apa yang berbeda? Apakah desainnya? Apakah fondasinya? Apakah tulangannya? Apakah kualitas materialnya? Apakah sambungannya? Apakah tukangnya? Apakah pengawasannya? Atau karena seluruh proses pembangunannya dilakukan dengan lebih baik?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun rumah yang lebih aman pada masa depan.
Harus jadi Rumah yang Lebih Aman
Pemerintah saat ini mempunyai tugas besar untuk membantu masyarakat yang rumahnya rusak akibat bencana.
Kita tentu menyambut baik program tersebut. Namun ada prinsip yang perlu kita sepakati bersama: Jangan hanya membangun kembali rumah yang rusak. Bangunlah rumah yang lebih aman daripada sebelumnya.
Keberhasilan pembangunan rumah pascabencana jangan hanya diukur dari jumlah rumah yang selesai.
Kita juga harus bertanya: Apakah rumah tersebut dibangun sesuai standar? Apakah desainnya memperhatikan ketahanan terhadap gempa? Apakah materialnya memenuhi persyaratan? Apakah tenaga yang mengerjakan memiliki kompetensi yang memadai? Apakah pekerjaan diawasi? Apakah masyarakat memahami bagaimana merawat dan tidak mengubah struktur bangunan secara sembarangan?
Pertanyaan tersebut penting karena rumah yang dibangun dengan uang negara pada akhirnya adalah investasi negara untuk keselamatan masyarakat.
Peran Masyarakat
Keselamatan bangunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat sebagai pemilik bangunan juga mempunyai tanggung jawab.
Jangan membangun hanya berdasarkan: “Kata tukang begini sudah biasa.” atau: “Rumah tetangga juga dibuat seperti ini.”
Setiap lokasi memiliki kondisi yang berbeda. Setiap bangunan mempunyai kebutuhan yang berbeda. Karena itu, masyarakat perlu membangun berdasarkan rencana yang benar dan memperhatikan standar keselamatan.
PBG seharusnya tidak dipandang sebagai beban atau hambatan untuk membangun rumah.
Sebaliknya, PBG harus dipahami sebagai salah satu bentuk perlindungan pemerintah kepada masyarakat agar rumah yang dibangun memenuhi persyaratan yang diperlukan.
Jangan Hanya Mengejar PBG yang Terbit
Bagi pemerintah daerah, tantangannya juga lebih besar. Keberhasilan penyelenggaraan PBG jangan hanya diukur dari: berapa banyak PBG yang berhasil diterbitkan.
Target penerbitan memang penting sebagai ukuran pelayanan. Tetapi pertanyaan yang lebih substantif adalah: Apakah bangunan yang telah memperoleh PBG benar-benar dibangun sesuai persetujuan dan persyaratan teknisnya?
Karena itu, pelayanan PBG harus diikuti dengan pengawasan, pembinaan, pengendalian dan edukasi masyarakat.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa tenaga operator, teknisi dan tenaga analisis yang menangani proses teknis mempunyai kompetensi yang memadai.
Sebab peraturan yang baik tidak akan menghasilkan bangunan yang baik apabila pelaksana sistemnya tidak memiliki kompetensi yang cukup.
Harus Sesuai Tata Ruang
Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembicaraan mengenai bangunan tahan gempa.
Keselamatan tidak dimulai ketika pembangunan rumah dimulai. Keselamatan dimulai dari pemilihan lokasi.
Karena itu, pembangunan rumah harus sesuai dengan tata ruang dan mempertimbangkan karakteristik wilayah serta potensi bencana.
Bangunan yang kuat tetapi dibangun di lokasi yang tidak tepat tetap dapat menghadapi risiko yang besar.
Maka kita harus melihat keselamatan secara menyeluruh: lokasinya benar, desainnya benar, PBG-nya benar, pelaksanaannya benar,
pengawasannya benar, dan pemeliharaannya benar.
Harus Berbuat Lebih Baik
Gempa Flores 1992 seharusnya tidak hanya menjadi catatan sejarah. Ia harus menjadi baseline pembelajaran.
Lebih dari tiga puluh tahun telah berlalu. Pengetahuan konstruksi telah berkembang. Peraturan telah berubah. Teknologi telah berkembang. Sistem PBG telah diperkenalkan. Tenaga profesional semakin banyak.
Karena itu kita harus bertanya: Apakah kualitas bangunan kita sekarang sudah lebih baik daripada sebelum Gempa Flores 1992?
Jika jawabannya belum, maka bencana belum benar-benar kita jadikan pelajaran.
Tetapi jika kita mampu menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara merencanakan, membangun dan mengawasi bangunan, maka penderitaan akibat bencana dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Gempa tidak dapat kita cegah. Tetapi kita dapat mengurangi risiko. Kita dapat memilih lokasi yang lebih tepat. Kita dapat merencanakan struktur dengan benar. Kita dapat menggunakan material yang memenuhi persyaratan. Kita dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Kita dapat memperbaiki pengawasan.
Dan pemerintah dapat menggunakan PBG sebagai instrumen pengendalian pembangunan yang berorientasi pada keselamatan.
Karena itu, ketika pemerintah membangun kembali rumah masyarakat pascabencana, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya dinding, lantai dan atap. Yang sedang dibangun adalah rasa aman masyarakat.
Dan ketika masyarakat mengurus PBG, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif. Yang sedang dilakukan adalah menempatkan keselamatan keluarga sebagai bagian penting dari keputusan membangun rumah.
Akhirnya, pelajaran dari Flores dapat dirumuskan dalam satu kalimat sederhana: Kita tidak dapat mencegah gempa datang, tetapi kita dapat memilih untuk tidak membangun bangunan yang mudah roboh ketika gempa datang.
Flores 1992 telah memberikan pelajaran. Flores hari ini memberikan kesempatan untuk memperbaiki. Jangan menunggu gempa berikutnya untuk kembali belajar. (*)

Komentar