WKN.COM, KUPANG — Progres pekerjaan pembangunan Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga September 2026 mencapai 14 persen.
Sementara pembongkaran jembatan utama Oesapa yang semula direncanakan pada Oktober 2026 diundur hingga awal Januari 2027 atau setelah perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 pada Satuan Kerja Wilayah I Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, Paul Hugo Zachariasz, ST, MT, di Kupang, Jumat (25/9/2026), menjelaskan, keputusan menunda pembongkaran jembatan utama tersebut diambil setelah adanya usulan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat.
“Jadi ada usulan dari banyak pihak termasuk komponen masyarakat juga minta agar jembatan utama Oesapa jangan dibongkar dulu bulan Oktober karena menyambut Natal dan Tahun Baru, di mana saat itu arus lalu lintas kendaraan masyarakat lagi ramai,” kata Paul.
Menurut dia, berdasarkan hasil rapat di Jakarta, pembongkaran jembatan utama Oesapa diputuskan untuk diundur hingga awal Januari 2027 setelah perayaan Tahun Baru.
“Jadi schedule-nya kita mepetkan ke tahun 2027 untuk fisik Jembatan Oesapa,” ujarnya.
Paul menjelaskan, perubahan jadwal tersebut tidak hanya berkaitan dengan waktu pelaksanaan, tetapi juga terhadap alokasi anggaran pekerjaan.
Untuk tahun anggaran 2026, dana yang tersedia sebesar Rp 25 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan jembatan alternatif atau jembatan darurat serta pengadaan girder atau balok jembatan.
“Dananya untuk tahun ini sampai Desember 2026 hanya Rp 25 miliar. Setelah selesai pembangunan jembatan alternatif, dananya langsung habis,” jelasnya.
Ia menegaskan, jembatan alternatif harus sudah selesai paling lambat Desember 2026 sebelum jembatan utama Oesapa dibongkar.
Jembatan alternatif tersebut nantinya digunakan sebagai jalur sementara bagi kendaraan selama pembangunan jembatan baru. Namun, jembatan tersebut memiliki kapasitas terbatas sehingga akan diberlakukan pengaturan terhadap kendaraan yang melintas.
“Nanti setelah selesai baru dijelaskan dan disosialisasi kapasitas maksimum tonase kendaraan yang melewati jembatan tersebut. Mungkin nanti dari perhubungan bisa mengatur kendaraan besar yang melewati jembatan alternatif itu. Jadi muatan maksimumnya bisa diatur, tidak bisa overloading lagi,” katanya.
Paul mengatakan, jembatan baru Oesapa akan memiliki dimensi yang lebih besar dibandingkan jembatan lama. Lebar jembatan baru mencapai 14 meter atau dua kali lipat dari jembatan lama yang hanya memiliki lebar sekitar 7 meter.
Jembatan baru tersebut akan memiliki panjang 100 meter dengan ketinggian yang kurang lebih sama dengan jembatan lama. Konstruksinya menggunakan beton prategang atau beton pratekan, seperti yang diterapkan pada Jembatan Petuk I, Petuk II dan Petuk III.
“Jembatan lama akan dibongkar semua. Karena ini bangun jembatan baru, kita akan bangun baru semua mulai dari tiangnya,” katanya.
Terkait pembebasan lahan, Paul mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, camat, lurah dan aparat terkait. Sosialisasi kepada masyarakat juga telah dilakukan sejak jauh hari.
“Semua sudah omong dan sudah sosialisasi dari jauh hari sebelumnya dan masyarakat semuanya sudah oke dan antusias menerima. Karena mereka sudah kasih, maka kita sudah kerja,” ujarnya.
Untuk keseluruhan pembangunan Jembatan Oesapa Besar, nilai kontraknya mencapai Rp 66,485 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan dalam dua tahun, yakni Rp 25 miliar pada 2026 dan sekitar Rp 41 miliar pada 2027.
Paul menjelaskan, alokasi Rp 25 miliar tahun 2026 digunakan antara lain untuk pembangunan jembatan darurat dan pengadaan girder jembatan. Girder tersebut dipesan dari Surabaya.
Masa kontrak pekerjaan Jembatan Oesapa Besar berlangsung mulai 26 Juni 2026 hingga Desember 2027. Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor PT Selosari dari Surabaya.
Terkait progres pekerjaan yang baru mencapai 14 persen, Paul mengatakan, capaian tersebut sebenarnya sudah lebih tinggi apabila memperhitungkan girder jembatan yang telah selesai diproduksi di Surabaya.
“Sebenarnya sudah lebih dari itu karena girdernya sudah jadi di Surabaya. Cuma belum bisa kita progreskan karena mestinya barang itu harus ada di sini,” kata Paul.
Dengan penundaan pembongkaran jembatan utama hingga setelah Nataru, pembangunan jembatan alternatif ditargetkan rampung terlebih dahulu sehingga akses lalu lintas masyarakat tetap tersedia selama pembangunan Jembatan Oesapa yang baru berlangsung hingga 2027. (kas)

Komentar