Jasa Konstruksi
Beranda » Berita » Jelang Pelaksanaan IJD, BPJN NTT Percepat Pekerjaan Paket Reguler

Jelang Pelaksanaan IJD, BPJN NTT Percepat Pekerjaan Paket Reguler

Kepala BPJN NTT, Janto Mangiri (ig: pu_bpjn_ntt)

WKN.COM, KUPANG – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Timur (BPJN NTT) mempercepat pelaksanaan pekerjaan paket reguler tahun anggaran 2026. Langkah tersebut dilakukan menjelang pelaksanaan program Inpres Jalan Daerah (IJD), agar pekerjaan yang sedang berjalan dapat diselesaikan sesuai target dan tidak terganggu oleh pembagian konsentrasi pekerjaan.

Hal ini disampaikan Kepala BPJN NTT, Janto Mangiri, SE, ST, M.Sc., saat ditemui wartakonstruksintt.com di kantornya, Rabu (5/8/2026).

Dia mengatakan, total alokasi anggaran untuk paket reguler yang ditangani BPJN NTT pada tahun 2026 mencapai sekitar Rp 600 miliar.

Hingga akhir Juli 2026, realisasi fisik paket reguler secara kumulatif telah mencapai 68 persen, sementara realisasi keuangan mencapai 64 persen.

“Teman-teman di lapangan terutama PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) masih mempercepat pelaksanaannya. Karena takutnya lagi sudah masuk IJD (Inpres Jalan Daerah), konsentrasi mereka terpecah lagi, sehingga yang bisa diselesaikan ya diselesaikan,” kata Janto.

130 Peserta Ikut Uji Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di ATK

Menurut Janto, pekerjaan paket reguler BPJN NTT tahun ini meliputi preservasi jalan, penanganan longsoran, hingga pembangunan dan penggantian jembatan.

Ia berharap seluruh pekerjaan yang memungkinkan untuk dipercepat dapat diselesaikan sebelum memasuki puncak musim hujan. Namun, untuk pekerjaan tertentu seperti penambalan lubang, pelaksanaannya tidak dapat dipastikan selesai lebih awal karena sifat pekerjaannya dapat berlangsung hingga akhir tahun.

“Kecuali kalau tambal-tambal lubang tidak bisa dipastikan. Itu sampai akhir tahun,” ujarnya.

Janto menambahkan, pekerjaan seperti penggantian jembatan dan penanganan longsoran dapat dikejar sebelum musim hujan sehingga risiko gangguan terhadap pelaksanaan pekerjaan dapat diminimalkan.

Kenaikan Harga BBM

Mendorong Peran Perguruan Tinggi: Melahirkan Nelayan Profesional

Terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap pelaksanaan pekerjaan, Janto mengakui bahwa kenaikan tersebut tentu memberikan dampak terhadap biaya pekerjaan. Namun, sejauh ini kondisi tersebut belum mengganggu pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

“Kalau soal dampak itu pasti ada. Namun dampak kenaikan harga BBM tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Buktinya, hingga saat ini pelaksanaan pekerjaan oleh penyedia jasa atau kontraktor di lapangan masih berjalan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, capaian progres fisik sebesar 68 persen hingga akhir Juli 2026 menunjukkan pelaksanaan paket reguler masih berjalan cukup baik.

“Progres fisik sampai akhir Juli 2026 sudah mencapai 68 persen, masih lumayanlah, itu cukup besar,” katanya.

Sementara terkait kenaikan harga material yang dipengaruhi kenaikan harga BBM, BPJN NTT telah meminta para kontraktor menghitung sendiri kebutuhan penyesuaian harga dan melaporkannya kepada BPJN NTT.

Pembangunan Patung Yesus di Semau: Antara Legitimasi Hukum, Review Tata Kelola, dan Akuntabilitas Publik

“Kita sudah minta teman-teman kontraktor untuk menghitung sendiri penyesuaian-penyesuaian harga dan melaporkan ke kita (BPJN NTT),” ujar Janto.

Selanjutnya, BPJN NTT meneruskan laporan tersebut kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum. Untuk kebijakan mengenai penyesuaian harga material, BPJN NTT masih menunggu arahan dari pemerintah pusat.

“Kita sudah menginformasikan ke pusat dalam hal ini Kementerian PU dan kita menunggu informasi kebijakan dari pusat seperti apa,” katanya.

Janto menjelaskan, persoalan kenaikan harga material akibat dampak kenaikan BBM bukan hanya terjadi pada pekerjaan di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga, tetapi juga dirasakan pada bidang maupun balai lainnya.

“Kan kejadian ini tidak hanya terjadi di Bina Marga saja, atau BPJN NTT saja, tapi juga di bidang lainnya atau balai lainnya,” jelasnya.

Sementara untuk pekerjaan baru yang dilaksanakan setelah kenaikan harga BBM, seperti pekerjaan Jembatan Oesapa Besar, BPJN NTT telah mengusulkan agar perhitungan pekerjaan disesuaikan dengan kondisi terbaru.

Jembatan Oelamasi

Selain mempercepat paket reguler, BPJN NTT juga memastikan penanganan permanen Jembatan Oelamasi I di Kabupaten Kupang akan dilaksanakan tahun ini.

Janto mengatakan, anggaran pembangunan jembatan tersebut telah tersedia sebesar Rp 16 miliar. Saat ini proses tender atau lelang pembangunan jembatan sedang berlangsung.

“Mohon doanya tahun ini bisa selesai. Sebentar lagi musim hujan. Kalau tidak ada halangan bulan depan sudah selesai tender,” kata Janto.

Untuk diketahui, Jembatan Asam Tiga di Km 36, Naibonat, dan Jembatan Oelamasi I di Km 38, Kabupaten Kupang, amblas dan putus total pada Kamis, 26 Maret 2026.

Kerusakan tersebut terjadi akibat derasnya arus sungai yang dipicu curah hujan tinggi dalam waktu lama. Kondisi itu menyebabkan jalur Trans Timor lumpuh, memicu kemacetan total, serta sempat memutus akses utama menuju perbatasan Timor Leste.

BPJN NTT kemudian melakukan penanganan darurat dengan pengalihan sementara sehingga arus lalu lintas kembali berjalan.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kerusakan jembatan terjadi pada bagian abutment akibat gerusan banjir. Fondasi jembatan yang bergeser menyebabkan struktur jembatan tidak lagi aman digunakan sehingga diperlukan penanganan permanen.

Saat memberikan penjelasan, Janto didampingi Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilhelmus Sugu Djawa, S.T., M.T.; Kasi Preservasi Rofinus Ngilo, S.T.; serta Kasi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan Mahmah Dian Mahendra, S.T., M.T. (kas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement