WKN.COM, KUPANG – Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPJN NTT) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 11 miliar untuk kegiatan preservasi jalan pada ruas batas Kota Kupang hingga batas Kota SoE, Kabupaten TTS sepanjang 115 kilometer.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 pada Satker Wilayah 1 BPJN NTT, Paul Hugo Zachariasz, ST, MT menjelaskan, paket pekerjaan tahun anggaran 2026 tersebut telah dikontrakkan, dan akan berlangsung hingga akhir Desember 2026.
Kegiatan ini mencakup pemeliharaan rutin jalan untuk menjaga kondisi agar jalur strategis tersebut tetap fungsional.
“Nilai kontraknya Rp 11 miliar, dan kita akan lakukan pemeliharaan sampai akhir tahun 2026,” ujar Paul Hugo kepada nttbicara.com, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, pekerjaan preservasi jalan ini dilaksanakan oleh kontraktor CV Panca Konstruksi yang berbasis di Kupang.
Ruang lingkup pekerjaan meliputi penambalan jalan pada Jalur 40 mulai dari wilayah Bolok, Kupang hingga batas Kota SoE, Kabupaten TTS.
Termasuk juga penanganan titik longsoran di Sta 92+100 dan Sta 43+700 pada ruas jalan tersebut.
Selain kegiatan pemeliharaan jalan, pada tahun 2026 BPJN NTT juga merencanakan pembangunan Jembatan Oesapa Besar.
Proyek ini direncanakan menggunakan skema multi years. Total anggaran yang diusulkan mencapai lebih dari Rp 60 miliar. Dan untuk tahun ini, anggaran yang diperkirakan akan dialokasikan sekitar Rp 20 miliar.
Paul Hugo menjelaskan, Jembatan Oesapa Besar akan dibangun dengan panjang sekitar 100 meter menggunakan konstruksi balok girder, serupa dengan Jembatan Petuk 1, 2, dan 3.
Meski demikian, ia belum bisa memastikan kapan proses lelang atau tender dilaksanakan. “Tapi dipastikan akan dilaksanakan pada tahun ini,” katanya.
Selain kegiatan preservasi jalan dan rencana pembangunan Jembatan Oesapa Besar, kondisi Jembatan Oelmasi di Kabupaten Kupang juga menjadi perhatian BPJN NTT.
Paul Hugo menjelaskan, jembatan tersebut mengalami kerusakan pada abutment akibat gerusan banjir yang dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama. Fondasi yang bergeser menyebabkan struktur jembatan tidak lagi aman digunakan.
Untuk pembangunan kembali jembatan tersebut, Paul Hugo menjelaskan masih diupayakan pimpinan BPJN NTT. Namun ia belum memastikan besaran anggarannya karena masih didesain.
“Untuk anggarannya masih dalam tahap desain. Kita masih tunggu desain,” kata Paul Hugo.
Pihak BPJN NTT, jelasnya, mengharapkan pembangunan kembali jembatan tersebut bisa segera dilakukan tahun ini mengingat jalur tersebut merupakan akses strategis yang menghubungkan empat kabupaten di Pulau Timor hingga ke perbatasan Timor Leste.
“Untuk sementara, penanganan darurat telah dilakukan dengan pengalihan arus lalu lintas, mengingat jembatan tersebut belum dapat difungsikan kembali,” katanya.
Diketahui, Jembatan Asam Tiga di Km 36, Naibonat dan Jembatan Oelmasi I di Km 38, Kabupaten Kupang ambles dan putus total pada Kamis, 26 Maret 2026.
Kerusakan akibat derasnya arus sungai tersebut menyebabkan lumpuhnya jalur Trans Timor, memicu kemacetan total, serta memutus akses utama menuju perbatasan Timor Leste.
Beruntung, pihak BPJN NTT segera melakukan penanganan cepat berupa penanganan darurat jalan dengan pengalihan sementara sehingga arus lalulintas kembali berjalan lancar. (kas)

Komentar