WKN.COM, KUPANG – Project Manager PT Adhi Karya (Persero), Hadi Wiyono, membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menangani proyek IID (Inpres Irigasi Daerah) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Hadi, tantangan terbesar tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pekerjaan, tetapi juga menyangkut kondisi sosial masyarakat, akses menuju lokasi proyek, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah.
“Pekerjaan proyek IID ini merupakan usulan dari daerah atau kabupaten. Dalam satu kabupaten ada empat sampai enam lokasi daerah irigasi (DI). Kemudian masyarakatnya mau menerima atau tidak, itu juga berkaitan dengan waktu pekerjaan,” kata Hadi kepada wartakonstruksintt.com, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, ada masyarakat yang belum bersedia lokasi irigasinya dikerjakan meskipun proyek tersebut merupakan program Presiden untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Selain persoalan sosial masyarakat, hambatan utama lainnya adalah akses menuju lokasi proyek. Banyak lokasi daerah irigasi berada jauh dari jalur kendaraan sehingga material proyek harus diangkut secara manual menggunakan tenaga manusia.
“Ada lokasi yang jaraknya sampai dua kilometer dari akses kendaraan. Bahkan di Manggarai ada lokasi yang lebih dari tujuh kilometer dari jalan umum atau jalan yang bisa dilalui kendaraan,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika musim hujan tiba. Jalan menjadi sulit dilalui dan kendaraan tidak dapat masuk ke lokasi pekerjaan.
“Begitu hujan, kami tidak bisa bekerja karena kendaraan tidak bisa masuk,” tambahnya.
Hadi mengatakan, proyek IID yang ditangani PT Adhi Karya tersebar di 64 lokasi di seluruh kabupaten di NTT, mulai dari Flores Barat sampai Flores Timur, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Sumba hingga Rote Ndao. Hanya Kabupaten Sabu Raijua dan Kota Kupang yang tidak masuk dalam paket pekerjaan tersebut.
Lokasi proyek yang tersebar luas juga menyulitkan proses monitoring pekerjaan di lapangan.
Untuk mengatasi hal itu, PT Adhi Karya menggunakan sistem bank data dari Kupang dan menempatkan tim di masing-masing kabupaten.
“Jadi di tiap kabupaten ada tim kami di sana,” katanya.
Selain itu, kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa lokasi pekerjaan mengharuskan pekerja melintasi sungai besar yang tidak bisa dilewati saat banjir.
“Ada pekerjaan yang harus melewati sungai besar. Saat hujan dan banjir besar, kami tidak bisa bekerja karena tidak bisa menyeberang. Salah satu contohnya di Bokong, Kabupaten Kupang, Fatumuti,” jelas Hadi.
Kendala lain yang dihadapi, yakni keterbatasan jaringan internet di sejumlah lokasi proyek sehingga proses pemantauan pekerjaan tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Hadi menuturkan, pekerjaan IID Paket I dan Paket II yang ditangani PT Adhi Karya baru mulai dikontrak pada akhir September 2025.
“Hampir semua lokasi sudah saya kunjungi. Kecuali di Rote yang dipantau oleh Pak Oji karena keterbatasan saya,” katanya.
Ia mengungkapkan, jarak antara satu lokasi proyek dengan lokasi lainnya dalam satu kabupaten bisa mencapai tiga hingga lima jam perjalanan.
Meski harus memantau 64 paket proyek sekaligus, Hadi mengaku hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diembannya.
“Namanya juga tugas. Apalagi paket pekerjaan ini instruksi langsung dari pemerintah pusat kepada perusahaan kami, yaitu Adhi Karya,” ujarnya.
Pria berusia 47 tahun itu dipercaya menangani proyek IID di NTT karena dinilai memiliki pengalaman panjang bekerja di wilayah tersebut. Hadi mulai bertugas di NTT sejak tahun 2002.
Ia juga pernah dipercaya menangani proyek pembangunan Dermaga Tenau Kupang saat masih berada di bawah Kementerian Perhubungan sebelum kini dikelola PT Pelindo. (kas)

Komentar