Jasa Konstruksi
Beranda » Berita » Pekerjaan DI Nggorang di Manggarai Barat dan DI Mena di TTU Mulai Dikebut Juli 2026

Pekerjaan DI Nggorang di Manggarai Barat dan DI Mena di TTU Mulai Dikebut Juli 2026

Kasatker PJPA BBWS NT II, Ari Mulerli. (Foto Kanis Jehola)

WKN.COM, KUPANG – Progres pekerjaan rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan DI Nggorang Sub DI Wae Dongkong di Kabupaten Manggarai Barat, masih relatif kecil hingga Juni 2026. Namun, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) memastikan pekerjaan akan dikebut mulai Juli 2026.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) BBWS NT II, Ari Mulerli, Kamis (11/6/2026), menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena pelaksanaan pekerjaan bertepatan dengan masa tanam petani.

“Pada saat sosialisasi disampaikan tidak mungkin dilakukan buka tutup air. Jadi karena sudah masa tanam dan kita tahu itu lagi tanam sehingga proses secara masif itu baru akan dilakukan per Juli 2026,” kata Ari.

Meskipun pekerjaan fisik secara besar-besaran belum dilakukan, Ari memastikan seluruh persiapan sudah berjalan. Material proyek telah berada di lokasi dan sejumlah pekerjaan pendahuluan mulai dikerjakan.

“Sekarang ini semua material sudah di lapangan, besi sudah mulai dibengkok-bengkokkan, bikin bagesting dan sebagainya,” ujarnya.

130 Peserta Ikut Uji Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di ATK

Khusus untuk DI Mena, Ari mengatakan, beberapa wilayah sudah memasuki masa panen sehingga pekerjaan mulai dilakukan meski progresnya masih sekitar 13 persen.

Namun jika dihitung bersama ketersediaan material yang sudah berada di lapangan, realisasi fisik dan keuangan diperkirakan telah mencapai 25 hingga 30 persen.

Ia menjelaskan, proyek DI Mena juga terdampak kebijakan efisiensi anggaran. Dari nilai kontrak yang telah berjalan, terdapat pemotongan anggaran sebesar Rp 10 miliar sehingga mempengaruhi perhitungan progres pekerjaan.

“Saat ini kami ada pemotongan anggaran. Di DI Mena itu yang besar Rp 10 miliar meskipun sudah terkontrak. Sehingga kalkulasi material yang tadinya 10 persen berdasarkan kontrak lama, begitu dikurangi Rp 10 miliar menjadi lebih tinggi,” jelasnya.

Sementara pada proyek DI Nggorang Sub DI Wae Dongkong, jelas Ari, pekerjaan dapat berjalan lebih lancar karena area di sisi kanan saluran tidak digunakan untuk kegiatan tanam.

Mendorong Peran Perguruan Tinggi: Melahirkan Nelayan Profesional

Dengan kondisi tersebut, pekerjaan sepanjang 5,3 kilometer tetap dilaksanakan dan realisasi fisik maupun keuangan telah mencapai sekitar 25,17 persen.

“Di sebelah kanan itu memang tidak ditanami sehingga target kita sepanjang 5,3 kilometer itu sekarang sudah dikerjakan dan capaian target sudah mendekati angka 25,17 persen realisasi fisik dan keuangan,” katanya.

Ari menambahkan, proyek DI Nggorang juga mengalami penyesuaian nilai akibat efisiensi anggaran. Namun penyesuaian tersebut tidak sampai mengurangi nilai kontrak pekerjaan karena berasal dari sisa hasil lelang.

Berbeda dengan DI Mena yang mengalami pengurangan kontrak akibat pemotongan anggaran cukup besar, pekerjaan di DI Nggorang tetap berjalan sesuai rencana.

Ari mengakui hingga Juni 2026 progres pekerjaan di DI Mena memang belum signifikan karena tidak memungkinkan dilakukan pengaturan aliran air selama masa tanam.

Pembangunan Patung Yesus di Semau: Antara Legitimasi Hukum, Review Tata Kelola, dan Akuntabilitas Publik

Namun mulai Juli nanti, pekerjaan akan meningkat karena sudah dapat dilakukan penutupan aliran pada titik-titik yang diperlukan.

“Setelah Juli 2026 baru naik realisasi progresnya karena sudah mulai dengan tutup air dan pekerjaan akan dilakukan secara masif,” ungkapnya.

Meski menghadapi hambatan pada tahap awal pelaksanaan, Ari optimistis target penyelesaian pekerjaan tetap dapat tercapai sesuai kontrak. Menurutnya, penyedia jasa telah menghitung kebutuhan alat, tenaga kerja, dan strategi percepatan agar pekerjaan selesai tepat waktu.

“Tidak, karena teman-teman penyedia jasa juga sudah berhitung bahwa dengan waktu yang tersedia, jumlah alat yang harus diturunkan seberapa dan sebagainya, sudah dihitung semuanya. Jadi masih bisa dilakukan percepatan, karena masih ada waktu tujuh bulan,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Ari juga menyampaikan perkembangan Program Inpres Irigasi Daerah (IID) 2025.

Menurutnya, seluruh pekerjaan program IID 2025 tersebut telah selesai dan kini memasuki masa pemeliharaan selama satu tahun hingga Mei 2027.

Untuk pekerjaan utama di lapangan sudah tidak lagi dilakukan. Saat ini kegiatan yang berlangsung hanya berupa pemeliharaan terhadap sejumlah bagian yang mengalami gerusan ringan akibat aliran air.

“Karena ada yang tergerus ketika air mengalir. Sekarang hanya pekerjaan pemeliharaan,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) pada tahun 2026 merehabilitasi jaringan irigasi di dua kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kedua jaringan irigasi tersebut, yakni jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan DI Nggorang Sub DI Wae Dongkong di Kabupaten Manggarai Barat.

Jaringan irigasi DI Mena di Kabupaten TTU yang direhab sepanjang 14 kilometer dan akan mengairi lahan pertanian seluas sekitar 820 hektare.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan kontraktor PT Widya Rahmat Karya dengan nilai kontrak sebesar Rp 30,9 miliar dari pagu anggaran Rp 31 miliar.

Sedangkan pekerjaan rehabilitasi bendung dan jaringan irigasi DI Nggorang Sub DI Wae Dongkong di Kabupaten Manggarai Barat dikerjakan CV Kemuning Jaya Mandiri dengan nilai kontrak sekitar Rp 14 miliar. Jaringan irigasi yang direhabilitasi ini sepanjang 5,32 kilometer dan diharapkan dapat mengairi lahan persawahan sekitar 763,5 hektare. (kas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement